Stop! Jangan Asal Membagikan Berita yang Tidak Benar

0 103

Dengan adanya media digital, semua informasi dapat tersebar dengan cepat. Entah dari mana asalnya. Kadang Mom juga tidak mengetahui asal muasal informasi yang tersebar secara random tersebut. Seram juga ya Mom, karena berita-berita tersebut bisa berdampak buruk lho bagi sang penerimanya.

Apalagi, baru-baru ini banyak sekali kejadian yang mencekam di Indonesia. Salah satunya teror bom di Surabaya. Dengan adanya kejadian tersebut tentu banyak sekali masyarakat Indonesia yang merasa cemas dan takut. Pasalnya, banyak sekali berita yang menampilkan kondisi korban atas tragedi tersebut. Ditambah lagi dengan isu-isu dan berita hoax yang tersebar di media sosial dan koran digital.

berita hoax

Sudah ada peringatan dari Menteri Komunikasi dan Informatika untuk tidak memviralkan korban bom.

Menteri komunikasi dan informatika Rudiantara meminta agar masyarakat untuk tidak menyebarkan atau memviralkan korban bom melalui media manapun. Dilansir dari CNNIndonesia.com (25/5/2017), “Penyebaran ”Penyebaran foto seperti memberikan oksigen bagi tujuan memberikan ketakutan kepada masyarakat,” kata Rudiantara, kepada CNNIndonesia.com, melalui pesan instan.

Masih dari CNNIndonesia.com (25/5/2017). Ada pula tiga imbauan yang dikeluarkan oleh Rudiantara, yaitu:

  1. Jangan sebarkan/viralkan foto korban di media manapun.
  2. Penyebaran foto seperti memberi oksigen bagi tujuan membuat ketakutan di masyarakat.
  3. Dukung dan beri ruang seluasnya bagi polisi untuk bekerja.

Menyebar foto korban apalagi luka-luka dan tampak tak utuh lagi, tidak membantu sama sekali. Malahan membuat ketakutan dan menambah perih bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Bayangkan saja Mom, jika korban tersebut adalah keluarga Mom, apa yang Mom rasakan?

Menyampaikan informasi boleh saja, tapi harus paham dengan kode etik yang berlaku!

Meskipun Mom punya niat untuk berbagi informasi, tetapi bukan seperti itu cara penyampaiannya. Ada aturan – aturan tertentu mengenai hal – hal tersebut.

Di sisi lain, bukan hanya etika dan rasa kemanusiaan saja yang tidak memperbolehkan kita untuk menyebarluaskan foto berita yang berisi konten mengerikan itu, tetapi ada hukum yang mengikat juga. Dalam kaitannya dengan foto yang diunggah sebagai berita, perlu kita ketahui bahwa ada Kode Etik Jurnalistik yang mengatur hal tersebut. Mom harus paham betul mengenai hal ini.

Ingat, Ada hukum yang mengatur tentang kode etik penyebaran berita lho Mom!

Secara hukum Mom bisa dituntut, karena itu sudah melanggar kode etik pers yang seharusnya tidak boleh menyebarkan gambar yang sadis, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan (pasal 4 Kode Etik Jurnalistik).

Kode Etik Jurnalistik adalah hal yang menjamin agar setiap kegiatan pemberitaan dan peliputan yang dilakukan tidak melanggar nilai – nilai, norma serta etika dan rasa kemanusiaan. Dalam hal ini foto – foto yang yang mengerikan tersebut seharusnya tidak boleh ditampilkan sebagai pelengkap berita.

Kalaupun ditampilkan, maka foto tersebut harus disamarkan. Hal yang sama pun berlaku pada siaran televisi, baik itu visual maupun audio visual. Tentu Mom pernah mengetahuinya bukan saat melihat berita di televisi.

***

Waspada boleh, menyampaikan informasi pun tidak ada salahnya. Hanya saja Mom harus paham dengan beberapa aturan-aturan yang berlaku, jangan sampai menimbulkan dampak negatif atau traumatik lantaran menyebarluaskan berita yang terlalu vulgar dan tidak pasti akan kebenarannya.

Saat suasan belum kondusif, ada baiknya Mom juga bisa mem-filter beberapa informasi yang didapat sebelum disebarluaskan. Semoga kejadian buruk yang sedang terjadi tersebut segera usai dan suasana bisa kembali kondusif seperti sedia kala.

 

Jangan Ketinggalan Info Penting Mom!
You might also like

Leave A Reply