Jika Hasil Karya Mom Diplagiat Orang yang Tak Bertanggung Jawab

0 32

Menciptakan sebuah karya itu enggak gampang loh Mom! Butuh sebuah pemikiran yang keras dan usaha maksimal. Hanya sebuah karya original. Bayangkan saja, jika pengorbanan Mom selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun itu diplagiat orang. Apa yang akan Mom lakukan, jika mengetahuinya?

Baru-baru ini dunia literasi geger dengan adanya kasus plagiat yang dilakukan seorang penulis perempuan. Bahkan sang pelaku berhasil menerbitkan hasil plagiatnya itu. Parah banget kan Mom! Perbuatannya ini pun membuat para penulis jadi meradang. Bagaimana tidak, pelaku dengan gampangnya hanya mengganti judul sebuah cerpen milik penulis lain.

plagiat

Butuh waktu semedi untuk menghasilkan sebuah karya!

Deadline dari editor, kerap kali menjadi momok buat sang penulis! Mungkin Mom pernah merasakannya. Banyak hal yang akan dilakukan kalau sudah mendapatkan warning “Deadline”. Semedi di dalam kamar, misalnya dan tidak mau diganggu siapapun hanya untuk mendapatkan sebuah inspirasi.

Sementara berbagai masalah di sekitar kita telah berkecamuk dalam hati, termasuk writer’s block. Tak jarang pula, Mom pergi ke kafe untuk mendapatkan mood menulis hingga mendapatkan ide segar.

Tapi faktanya kasus plagiat di dunia literasi ini sudah terjadi berkali-kali dan terselesaikan dengan sebuah kata “Maaf”.

Mirisnya nih Mom, kasus plagiat di dunia literasi di Indonesia ini sudah terjadi berkali-kali, loh! Ketika hal itu terjadi, pelaku hanya minta maaf dan kasus itu perlahan menghilang bak ditelan bumi. Mereka sebagai korban hanya bisa kesal, karena untuk menuntut ke jalur hukum harus mengorbankan materi dan waktu.

Padahal yang diributkan hanyalah sebuah cerpen! Tapi bagi Mom yang seorang penulis, setiap paragraf dalam satu buah cerpen, sungguh berharga. Layakya bagian dari diri Mom. Kalau sudah begini, bagaimana urusannya?

Apakah dengan sebuah kata “Maaf” saja semua persolaan akan rampung? Balik lagi dengan personal masing-masing yang dirugikan sih! Tapi bagi para pelaku, sebuah kata “maaf” tidak menghasilkan efek jera. Pelaku bisa saja beranggapan bahwa, “Ah, paling kalau ketahuan, cukup buat surat terbuka permohonan maaf saja.” Kemudian kasus tersebut akan terulang lagi dan lagi.

Hukuman yang pantas untuk para plagiat agar tidak mengulanginya lagi.

Harus ada efek jera, jika ingin menghentikan praktek pagiat di dalam dunia literasi. Jika efek jera tidak diterima oleh pelaku maka percayalah! Akan ada plagiator yang lain. Jangan pernah ampuni deh para plagiator, blacklist saja dalam rentan waktu yang lama sesuai dengan tingkat keparahannya. Hal ini tergolong sanksi ringan, karena menurut Undang-undang yang berlaku melanggar hak cipta bisa dikenakan hukuman pidana paling lama dua tahun penjara dan denda ratusan juta rupiah.

Mom boleh marah jika hasil karya Mom dipagiat oleh oknum tak bertanggung jawab! Tapi tolong jangan sampai berlebihan bahkan sampai menghujat si plagiator dengan kata-kata kotor di sosial media. Ingat Mom, attitude sebagai seoarang penulis pun harus dijaga. Jangan sampai Mom menjadi sorotan buruk di media.

Hukum alam masih berlaku kok Mom, jadi tidak ada salahnya Mom memberikan maaf kepada plagiator yang telah meminta maaf atas kesalahannya. Berikan masukan dan saran yang membangun agar tak menjadi plagiator lagi. Kemudian tetap mendukung untuk berkarya dengan jalan yang baik.

Kasus plagiat ini harusnya menjadi sebuah pelajaran bagi kita Mom. Jangan sampai mengorbankan nama baik kita. Ingat! Sebeken apapun Mom di dunia literasi, jika sekali terdeteksi menjadi plagiator maka reputasi yang sudah Mom bangun bertahun-tahun akan hancur seketika.

Jangan Ketinggalan Info Penting Mom!
You might also like

Leave A Reply